Cerpen Berjudul "Because This Is My Life" Karya Wulan Lestari Pemenang Lomba Cerpen TOP 25 Besar Nasional TKI Kreatif
BECAUSE THIS IS MY FIRST LIFE
WULAN LESTARI
Angin dingin berhembus tajam, menerpa tubuh Yura yang berdiri mematung di depan pintu rumahnya. Di tangannya, tergenggam selembar kertas hasil ujian simulasi masuk perguruan tinggi yang rutin diadakan tempat lesnya setiap bulan. Wajahnya lesu,matanya kosong. Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya memutar gagang pintu rumahnya. Begitu pintu terbuka, Yura mendapati ibunya sudah menunggu di ruang tamu. Tatapan ibunya tajam. Tanpa basa-basi, wanita itu ,langsung meraih kertas di tangan Yura. “Kenapa nilainya menurun dari bulan lalu, Yura?”tanyanya dengan nada tinggi, penuh tuntutan. Yura diam. Bibirnya ingin bergerak, tapi lidahnya keluar. Ia tahu, apa pun jawabannya, tidak akan mengubah apa yang akan terjadi selanjutnya. Ibunya melirik angka dikertas itu, lalu mendelik marah. “Apa? Kamu cuma peringkat tiga dari semua peserta? Apa saja yang kamu lakukan sampai bisa menurun seperti ini!” teriaknya dengan suara lantang..Dengan emosi yang memuncak, ibunya melemparkan kertas itu ke lantai. Suaranya menggema diruangan yang sunyi.
“Kalau nilai kamu cuma seperti ini, kamu tidak akan masuk universitas terbaik di negeri ini, Yura! Apa kamu gak mikir tentang masa depanmu? Apa kamu gak kasihan sama Ibu?” katanya sambil menatap tajam ke arah Yura,seolah anak gadisnya adalah sumber dari segala kekecewaannya. Yura tetap membisu. Tubuhnya kaku, air mata mulai membasahi pipinya. Namun, ia tetap menunduk, enggan membalas tatapan ibunya. Dalam hati, ia berteriak, ingin menjelaskan bahwa ia sudah berusaha sekuat tenaga,bahwa ia juga merasa lelah dan tertekan. Namun, suaranya seolah terkunci di tenggorokan. Bagi Yura, setiap hari seperti perang tanpa jeda. Ia hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi ibunya, untuk menjadi sempurna di mata sang wanita yang tidak pernah puas. Semua tentang pencapaian, semua tentang kesempurnaan. Di dunia luar, Yura adalah anak yang pintar dan berbakat. Banyak teman sekelasnya ingin mendekatinya,bahkan mengaguminya. Tapi Yura merasa ia dan mereka tinggal di dunia yang berbeda.
Teman-temannya hidup dengan tawa, impian, dan kebebasan, sementara ia hidup dalam lingkaran tuntutan. Pemikiran itulah yang membuatnya selalu menjaga jarak. Ia tidak ingin ada yang masuk ke dalam dunianya yang gelap. "Sekarang cepat ganti bajumu dan ulangi jawaban dari soal-soal yang kamu salah jawab. Setelah itu, baru kamu boleh makan. Mengerti?" ujar ibunya tegas. Yura hanya bisa menunduk dan menuruti perintah ibunya. Ia tahu jika ia membantah, ibunya pasti akan semakin marah. Dengan langkah berat, Yura berjalan menuju kamarnya. "Apa dia pikir soal-soalnya mudah?"gumamnya dalam hati, penuh kesal. Di dalam kamar, Yura langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap kosong ke langit-langit,tanpa mengganti pakaian seperti yang diperintahkan ibunya. "Padahal, tidak ada salahnya hidup biasa saja. Haruskah kita sehebat Elon Musk hanya untuk menikmati hidup?" lirih Yura. Tanpa ia sadari, air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Semakin lama, Yura tenggelam dalam kesedihan. Ia merasa sangat lelah tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Bahkan untuk bangun di pagi hari saja, ia merasa tak sanggup. Membayangkan tugas-tugas yang harus ia selesaikan hari ini membuatnya semakin putus asa. Hatinya kosong. Seperti robot yang terus bekerja keras setiap hari. "Apa salahnya Ibu berkata, 'Tidak apa-apa, kamu sudah bekerja keras,' atau, 'Kamu telah melakukan yang terbaik'? Mungkin kalau Ibu berkata seperti itu, aku akan lebih bersemangat," bisiknya, sambil menangis dalam kesunyian. Di gedung tempat les terbaik di kota itu, suasana begitu ramai. Anak-anak berlarian masuk ke kelas karena pelajaran akan segera dimulai. Yura, yang biasanya bergegas, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pandangannya tertuju pada seorang anak laki-laki yang baru saja tiba, diantar oleh keluarganya. Anak laki-laki itu adalah Suho. Teman-teman di kelas menjulukinya "Si Sexy Brain" bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi juga karena wajah tampannya. Ia selalu menjadi peringkat pertama di setiap ujian percobaan.
Yura berdiri diam, memandang Suho dengan campuran rasa iri dan kagum. Baginya, kehidupan Suho terlihat sempurna. Ia pintar, keluarganya harmonis, dan segalanya tampak berjalan lancar untuknya. Iri Yura semakin menjadi-jadi ketika teringat perkataan ibunya yang terus membandingkannya dengan Suho. "Belajarlah lebih keras, Yura, supaya kamu bisa menggeser posisi Suho"! Hidup yang benar-benar sempurna," gumam Yura lirih sambil memperhatikan interaksi keluarga Suho dari kejauhan. Tersadar dari lamunannya, Yura segera melangkah menuju kelas. "Kudengar kamu ada di peringkat tiga pada ujian percobaan kemarin? Itu tidak buruk. Jangan patah semangat!" suara seorang anak laki-laki tiba-tiba terdengar dari belakang Yura. Yura menoleh, dan matanya bertemu dengan Suho yang berdiri tak jauh darinya. Anak laki-laki itu tersenyum hangat, tulus ingin menyemangatinya. Namun, alih-alih merasa terhibur, Yura merasa tersinggung. "Lucu sekali, orang sempurna sepertimu tahu apa?" balas Yura dengan nada sinis. Ia langsung membalikkan badan dan kembali berjalan, meninggalkan Suho yang terlihat terkejut. Suho menghela napas dan bergumam pelan, "Respon yang cukup kasar untuk seseorang yang hanya ingin memberikan semangat." Suho menatap punggung Yura yang menjauh, masih tidak percaya dengan reaksi tersebut. Les berakhir pukul enam sore, lebih lama dari biasanya karena ujian masuk perguruan tinggi tinggal menghitung hari. Hari itu benar-benar melelahkan bagi Yura. Sejak pagi, ia merasa tidak enak badan. Wajahnya tampak pucat, dan kepalanya terasa berat seperti dihantam batu besar. "Kamu baik-baik saja?" tanya seorang teman sekelas yang duduk tidak jauh dari Yura, nada khawatir terdengar jelas dari suaranya.
Yura hanya mengangguk kecil tanpa berkata apaapa. Perlahan ia bangkit dari bangkunya, mengemasi barang-barangnya, lalu meninggalkan kelas. Jarak tempat les ke rumah Yura sebenarnya tidak terlalu jauh, sehingga ia biasa berjalan kaki. Namun, kali ini, langkahnya terasa begitu berat. Kepalanya terus berdenyut, dan pandangannya terasa kabur. Di matanya,orang-orang di sekelilingnya tampak bergerak cepat,seperti bayangan buram. "Kenapa semua orang bergerak begitu cepat? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan kakiku?"gumaman Yura dalam hati, bingung dengan apa yang ia rasakan Ia berhenti melangkah. Tubuhnya terasa kaku,seperti tertahan oleh beban yang tak kasat mata. Orangorang berlalu-lalang di sekitarnya, sibuk dengan urusan masing-masing, seolah tidak menyadari keberadaan Yura. Beberapa dari mereka tertawa riang, bahkan ada anakanak kecil yang berlarian dengan suara canda tawa memenuhi udara. Di tengah kekacauan itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan kencang entah dari mana asalnya. Teriakan itu menggema, memecah kebisingan di sekitar Yura. Sebelum ia sempat memahami apa yang terjadi, sebuah tangan dengan kuat. "Kamu baik-baik saja?" suara seseorang membangunkan Yura dari kebingungannya. Ia mendongak, mendapati Suho berdiri di hadapannya. Nafas Yura tersengal, dan ia mulai menyadari posisinya sekarang berdiri di pinggir jalan yang ramai, dengan beberapa orang memperhatikan mereka dari kejauhan. "Kamu hampir menyeberang jalan saat kendaraan sedang berlalu-lalang! Apa kamu benar-benar baik-baik saja?" tanya Suho lagi, nada suaranya mencampurkan kekhawatiran dan sedikit penekanan. Yura menggeleng kecil, mencoba menenangkan diri. "Aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya melamun dan tidak hati-hati. Terima kasih telah menolongku," jawabnya sambil menundukkan kepala. Namun, dalam hati, Yura merasa bingung. Ia bahkan tidak tahu bagaimana bisa sampai di sana. Suho menghela napas. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Dari tadi tatapanmu kosong, dan kau terlihat sangat pucat. Kamu pasti tidak enak badan,"ucapnya lembut. Yura menatap Suho dengan sedikit rasa kesal. "Aku tahu kamu anak pintar, tapi menilai orang seperti itu sedikit tidak sopan, bukan?" balasnya dengan nada yang agak tersinggung.Suho tersenyum tipis, mencoba menenangkan suasana. "Aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi, banyak orang yang berlari sekuat tenaga hanya untuk mendapati jurang di ujung jalannya. Kamu anak yang cerdas. Kurasa,kamu paham maksudku," ujar Suho, lalu berbalik meninggalkan Yura tanpa menunggu jawaban.
Yura hanya terpaku, mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan Suho. Kata-kata itu bergema di kepalanya,ya,menimbulkan rasa yang sulit dijelaskan. Dua Minggu Setelah Ujian Masuk Perguruan Tinggi Selesai Diadakan “Apa! Kamu gagal?” Suara ibu Yura menggelegar diruang tamu. Ibu Yura membanting laptop yang ia pegang ke atas sofa. "Kenapa kamu hidup seperti ini, Yura!" bentak ibunya. "Apa yang salah dengan hidupku?" ucap Yura, menjawab bentakan ibunya dengan penuh amarah. "Kau tahu, hidup hanya sekali! Gagal bukan pilihan, Yura! Bagaimana kau akan bertahan hidup jika dalam hal ini saja kau gagal!" bentak ibunya lagi, suaranya penuh kemarahan. "Tidak ada orang yang memilih gagal untuk hidupnya! Apakah Ibu tahu? Banyak orang berlari matimatian, tapi mendapati jurang di ujung jalannya!” ungkap Yura dengan suara yang mulai bergetar, menahan semua amarah yang selama ini ia pendam. "Sesusah itukah bagi Ibu untuk berkata, ‘Tidak apaapa Yura, kau telah bekerja keras’?” Ucap Yura, matanya mulai berkaca-kaca. Ibu Yura membeku, tidak tahu harus berkata apa . Ibu kecewa padaku, tapi aku lebih kecewa pada ibu! Selama ini aku selalu menuruti semua perkataan ibu, aku menjalani hidupku sesuai dengan keinginan ibu! Di saat aku ingin membantah, aku berpikir ibu pasti punya alasan untuk melakukan itu! Tapi aku juga manusia, Bu. Aku muak! Apa ibu tahu? Aku bahkan tidak punya teman disekolah! Mereka mengajakku bermain setelah pulang sekolah, tapi aku menolak karena harus pergi ke tempat les setiap hari, sesuai dengan keinginan ibu! Apakah ibu tidak pernah berpikir bahwa aku menjadi anak yang anti sosial gara-gara ibu?" ucap Yura, suaranya bergetar menahan tangis. Yura tak bisa lagi menahan semua yang ia pendam selama ini. Dengan langkah terburu-buru, ia berlari keluar dari rumah, meninggalkan ibunya yang masih terpaku,terdiam dengan semua perkataan putrinya yang baru saja terlontar.
Yura berjalan sambil menangis, tak peduli dengan orang-orang yang memandanginya. Ia merasa bersalah karena telah membentak ibunya, namun di sisi lain, ia juga merasa lega karena akhirnya bisa mengutarakan semua kegundahan yang selama ini dipendam. Langit mulai memerah, tetapi Yura tetap melangkah menuju taman belakang sekolahnya. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat seseorang yang sedang duduk di bangku taman. Orang itu terkejut dan berbalik menatap Yura. Yura terkejut dan tak percaya dengan apa yang ia lihat, karena orang itu adalah Suho. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Suho pada Yura. "Kamu sendiri?" balas Yura, bingung. "Wajahmu merah seperti langit itu. Apa kamu habis menangis?" ujar Suho sambil memandangi langit yang berwarna oranye kemerah-merahan akibat matahari yang mulai tenggelam. "Kurasa kau juga," ucap Yura sambil duduk di bangku taman. "Ada apa dengan kita? Kita adalah pelajar terbaik,namun kita berakhir seperti ini!" Suho menghela napas panjang. "Kau juga tidak diterima di universitas pilihanmu?" tanya Yura, karena mustahil Suho tidak diterima mengingat ia selalu menduduki peringkat pertama saat ujian percobaan. "Begitulah, hidup memang sulit diprediksi," jawab Suho. Bukankah itu tidak adil? Padahal kita bekerja keras setiap hari, tiada hari tanpa usaha, tapi apa yang kita dapatkan?" lirih Yura, air matanya mengalir tanpa permisi. "Menangislah! Kegagalan memang untuk ditangisi. Memang tak bisa dipungkiri, kegagalan itu menyakitkan," ucap Suho dengan penuh empati. "Tadinya aku merasa putus asa, namun ini adalah hidup pertamaku. Begitu juga denganmu. Kurasa tidak apa-apa jika kali ini kita gagal, karena ini hidup pertama kita!" Suho berkata sambil menoleh ke arah Yura.
Yura merasa takut untuk membuka pintu rumahnya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi jika ia bertemu dengan ibunya nanti. Namun, dengan sedikit keberanian, Yura memberanikan diri untuk membuka pintu. Ia melihat ibunya sedang duduk di sofa dengan wajah penuh putus asa. Begitu melihat Yura masuk ke dalam rumah, ibunya langsung berlari menuju Yura dan memeluknya. "Maafkan ibu, Yura," tangis ibunya. "Kamu hanya punya ibu, tapi ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu. Ibu hanya takut kamu berakhir seperti ibu," tambah ibu Yura dengan suara penuh sesal. Yura kemudian membalas pelukan ibunya. "Aku juga minta maaf, Bu. Tidak seharusnya aku bersikap seperti tadi," balas Yura sambil menangis. "Ibu tidak akan memaksamu lagi. Kau berhak menentukan pilihanmu sendiri, Yura," ucap ibu Yura. "Tidak apa-apa, Yura. Kau telah bekerja keras!" tambah ibu Yura. Hati Yura terasa begitu hangat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut ibunya. Tangis Yura benar-benar pecah. Yura tak pernah membenci ibunya, karena menurutnya, ibunya juga baru pertama kali menjadi seorang ibu, sama seperti dirinya yang baru pertama kali menjalani kehidupan. Dan setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, bukan karena mereka jahat atau ceroboh, tetapi karena kita semua adalah manusia. Dua bulan setelah pengumuman bahwa Yura tidak tidak diterima di kampus pilihannya, ia memutuskan untuk gapyear dan mencoba lagi di tahun depan. Yura berlari menuju gedung tempat lesnya, karena hari ini adalah hari pertama les dimulai kembali.
Ia menatap gedung itu dengan tekad. "Ayo lakukan yang terbaik kali ini, Yura!" ucapnya pada dirinya sendiri. "Kurasa kita sering bertemu akhir-akhir ini?" ucap seseorang dari samping Yura. Yura merasa bahwa suara ini sangat ia kenal. Ia menoleh ke samping dan melihat Suho di sana. "Mungkin kita harus menjadi teman dekat dan pergi belajar bersama," kata Suho sambil tersenyum, memandang Yura. Yura membalas dengan senyuman. "Kurasa itu ide yang bagus. Kamu anak yang baik, meskipun sedikit menyebalkan," ucap Yura sambil tertawa. "Kamu buruk dalam memuji orang lain," jawab Suho singkat, lalu berjalan masuk menuju lorong gedung. "Hahaha, ayo lah teman, aku hanya bercanda!" ucap Yura sambil mengejar Suho. "Mungkin kita bisa ke bioskop di akhir pekan,"tambah Yura. "Biasanya kamu selalu menolak saat orang lain mengajakmu bermain," jawab Suho. "Hey, itu aku yang dulu!" ucap Yura sambil Kamu buruk dalam memuji orang lain," jawab Suho singkat, lalu berjalan masuk menuju lorong gedung. "Hahaha, ayo lah teman, aku hanya bercanda!" ucap Yura sambil mengejar Suho. "Mungkin kita bisa ke bioskop di akhir pekan,"tambah Yura. "Biasanya kamu selalu menolak saat orang lain mengajakmu bermain," jawab Suho. "Hey, itu aku yang dulu!" ucap Yura sambil mengajakmu bermain," jawab Suho. "Hey, itu aku yang dulu!" ucap Yura sambil menyenggol tubuh Suho. Kudengar ada beberapa film bagus akhir-akhir ini," lanjut Yura. "Bagaimana kalau film horor?" jawab Suho dengan nada menggoda. "Itu membosankan!" balas Yura dengan ekspresi tidak tertarik. "Hahaha, kamu pasti takut, kan?" ledek Suho. Yura dan Suho berjalan menuju kelas. Yura memang kecewa karena tidak diterima di universitas pilihannya, namun ia juga merasa bahagia. Sebab, sejak itu ibunya menjadi sangat baik padanya dan sekarang, ia juga memiliki teman yang baik. "Terkadang aku kecewa dengan hidupku. Aku kesal dengan orang lain, marah, dan bersedih ketika aku gagal. Namun sekarang, aku merasa itu adalah hal yang wajar. Karena ini adalah hidup pertamaku."
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
LOMBA MENULIS cerpen FLS3N atas nama Siti Rodiah KELAS XI-1 "JEJAK YANG TERTINGGAL"
Jejak yang TertinggalKarya : Siti Rodiah Harahap Kelas XI-1 Senja selalu datang dengan cara yang sama, perlahan tanpa suara namun menyimpan jejak yang kasat mata.langit meredup,an
Cerpen Berjudul "Langit yang Retak di Kepala Salsabila" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1
Langit yang Retak di Kepala Salsabila Sejak kecil, Salsabila tahu satu hal: ia harus selalu lebih baik agar dianggap setara.Ia juara kelas. Ia sopan. Ia tak pernah membant
Cerpen Berjudul "Aku Tetap Tenggelam" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1 SMA Negeri 1 Angkola Barat
Aku Tetap Tenggelam Langit sore itu berwarna pucat. Tidak gelap sepenuhnya, tetapi juga tidak benar-benar terang. Seperti perasaanku tidak hancur, namun juga tidak utuh. Namaku Alya.
Cerpen Berjudul "Di Antara Lonceng dan Layar" Karya Nirmala Hapni Kelas XII-5
Di Antara Lonceng dan Layar Pagi itu, lonceng sekolah berbunyi seperti biasa. Nyaring, panjang, dan seharusnya memberi tanda dimulainya hari penuh harapan. Namun bagi Raka
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Qori Saulina Hutagalung Kelas XII-5
HARI BARU, HIDUP BARU Karya Qori Saulina Hutagalung Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil me
Cerpen Berjudul "Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan" Karya Dari Rodiah Kelas XI-5
Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan Di sebuah SMA yang terkenal dengan siswanya yang modis dan gaul, ada seorang gadis bernama Alya. Ia berbeda dari kebanyakan teman-temannya. S
Cerpen Berjudul "Cinta yang Tersimpan" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1
Cinta yang Tersimpan Karya Siti Rodiah XI-1 Sebuah desa yang tenang, terdapat seorang gadis bernama Aisyah. Sejak kecil, Aisyah diajarkan untuk selalu menjaga dirinya dengan pe
Puisi Yang Berjudul "Pendidikan Yang Memudar" Karya Dian Eriani Kelas XII-1
Pendidikan Yang Memudar Dian Eriani XII-1 Pendidikan yang Memudar Dinding sekolah retak dan berdebu, Buku-buku usang, tinta pun lesu. Suara guru tak lagi menggelegar, Pend
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Nirmala Hapni Hasibuan Siswa Kelas XII-5
Hari Baru Hidup Baru Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil meregangkan otot-otot nya. &ldqu
Cerpen Berjudul "Menjadi Ayah Bagi Banyak Orang" Karya Nurhapni Kelas XI-5
Bimo berdiri di depan panti asuhan yang menyimpan segala kenangan masa kecilnya otaknya seakan kembali memutar segala memori yang telah lama ia simpan sendiri. "Tidak terasa ya sud

