Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Nirmala Hapni Hasibuan Siswa Kelas XII-5
Hari Baru Hidup Baru
Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil meregangkan otot-otot nya. “Astaga tadi malam itu pindahan yang sangat berat, banyak barang yang aku pindahkan sendirian, ga ada yang bantu karena mungkin aku belum kenal siapa pun disini”. Ucapnya sambil mengacak acak rambut pendek nya. Luna melamun sesaat dan bergumam “Aku harus cari pekerjaan, kalo ga kerja mau makan apa”.
Setelah melamar pekerjaan di berbagai tempat dan bidang perkejaan, akhirnya Luna di terima sebagai barista di sebuah cafe yang lumayan besar. Ia sangat senang ketika mendapatkan email dari cafe tersebut untuk melakukan interview kerja, Luna bangun sangat awal bahkan matahari belum menampakkan perawakan nya di bumi. “Harus rapi nih biar dapet kesan pertama yang bagus, harus wangi juga kan ga lucu kalo hari pertama ketemu HRD udah bau ketek aja”. Ia bergumam dan tertawa sendiri seolah lemari pakaian nya bisa mendengarkan ocehan nya. Selesai memakai pakaian terbaik menurut nya, Luna mulai keluar dari kost an kecil nya dan berjalan penuh senyuman ke cafe untuk melakukan interview kerja.
“Wahh gede banget ini cafe, kayanya gaji nya gede deh Alhamdulillah banget di terima disini, aku harus jawab pertanyaan dengan percaya diri”. Ucapnya dalam hati meyakinkan diri nya sendiri bahwa dia pasti akan di terima. Tiba-tiba seorang perempuan muda menghampiri Luna “Eh mba ya yang mau interview kerja? udah di tungguin HRD kak di kantor menejer, good luck ya mba kalo di terima kita bisa jadi temen”. Luna menatap perempuan itu dengan penuh semangat “Eh iya kakk, makasih ya kak doa nyaa, aku masuk dulu”. Ucap Luna sambil menggenggam tangan perempuan itu lalu masuk ke ruang yang di maksud.
2 jam berlalu dan Luna telah menyelesaikan interview kerjanya dan kabar baik yang Luna dapatkan adalah dia di terima kerja di cafe tersebut dan mulai bekerja besok, ia langsung pulang dengan perasaan gembira dan berbunga bunga ke kost an kecil nya. “ASTAGAAAA AKU GA NYANGKA AKU DI TERIMA SEMUDAH ITU”. Ucapnya sambil berteriak dan melompat ke kasur milik nya. “Besok aku harus datang lebih awal, ga boleh telat”. Gumamnya sambil memejamkan matanya untuk menjemput mimpi yang indah.
Pagi telah tiba, cahaya matahari menebus jendela dan menerangi wajah Luna yang masih terlelap. “Aduh udah pagi aja”. Gumamnya sambil melihat jam yang menunjukkan pukul 8 pagi. “Aku harus siap siap, kan masuk kerja mulai jam 10”. Luna membersihkan badannya, sarapan, lalu memakai pakaian yang rapi. “Bismillah, semoga hari ini berjalan dengan lancar, eh iya ya kakak yang kemaren nyemangatin aku siapa ya namanya ga sempet nanya aku ih”. Kekeh nya sambil menggaruk telungkuk yang tidak gatal.
Setelah berjalan menyusuri jalanan kota dengan hari yang senang dan wajah yang sumringah, Luna pun sampai di depan cafe yang baru saja buka. Di depan cafe ia melihat perempuan yang sempat memberikan dukungan padanya kemarin, Luna berlari ke arah perempuan tersebut “KAA, AKU DI TERIMA TAUU”. Teriak nya yang membuat perempuan tersebut terkejut , “ Astagfirullah, kamu ini ngagetin aja”. Ucapnya sambil mengelus dada. “ Eh maaf kak, hehe soalnya seneng tau karena di semangatin kakak nya aku jadi lebih percaya diri, eh iya nama kakak siapa? terus umurnya berapa? rumahnya dimana? kakak nya mau gak jadi temen aku?”. Perempuan tersebut tersenyum mendengarkan Luna yang terus menerus melemparkan banyak pertanyaan kepada nya. “Pelan pelan ngomongnya, nama aku Hera, umur aku 23, rumah aku ga jauh kok dari cafe ini tinggal jalan sedikit ke arah kiri nanti Nemu perempatan nah rumah aku yang warna putih, kita kan memang harus berteman, namanya juga satu tempat kerja”. Jawabnya sambil tersenyum kepada Luna.
"Hehe maaf kak, aku semangat banget soalnya. Kenalin ya kak nama aku Luna, umur aku 21 lebih muda 2 tahun dari kakak, rumah aku agak jauh sih dari sini tapi masih bisa lah jalan kaki”. Hera yang mendengar penuturan dari Luna pun mengangguk paham. “Ayo masuk, kita masih harus bersih bersih meja di dalem loh, udah mau jam 10 ini”. Ajak Hera sambil masuk ke dalam cafe, “Ayo kak, aku udah ga sabar hari pertama kerja hehe”. Luna mengikuti Hera dari belakang, “Jangan panggil kakak ih canggung banget, panggil mba aja”. Ucap Hera sambil tersenyum, “Oalah siap siap mbaa”. Angguk Luna. Setelah selesai membersihkan meja - meja cafe Luna dan Hera pun berdiri di belakang meja kasir dan barista, Hera yang mengurus kasir dan Luna yang mengurus meja barista.
"Kamu sebelumnya udha pernah kerja ya jadi barista? aku liat - liat bikin kopi nya udah profesional banget”. Tanya Hera sambil menatap tangan Luna yang begitu lihai meracik kopi pesanan para pembeli. “ Emm sebenernya ayah aku dulu punya cafe kaya gini juga mba, aku sempet kerja disitu bantu bantu ayah jadinya ya udah agak bisa lah”. Jawabnya sambil tersenyum malu karena pujian dari Hera. “Gitu ya, terus kenapa pindah kesini? kok ga kerja di cafe ayah nya lagi? kan enakan kerja sama keluarga dari pada orang lain”. Hera kembali bertanya, “ Panjang ceritanya mba, sakit juga kalo di ceritain”. Ucapnya sambil menatap nanar lantai cafe. Mendengar hal itu Hera tersenyum canggung, “Eh maaf ya kalo pertanyaan mba nyinggung kamu, mba ga bermaksud buka luka lama kok”. Ucap Hera sambil menepuk bahu Luna. “Gapapa mba, nanti aku ceritain deh biar mba nya paham”Mendengar itu Hera pun tersenyum dan mengangguk.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah 8 malam, Luna dan Hera pun mulai memberikan gelas dan piring kotor serta mengepel lantai cafe. “Mba kerja disini mulai dari kapan? ”Tanya Luna sambil mengepel lantai. “Udah dua tahun lalu sih, kebetulan waktu itu yang jadi menejer cafe sini paman nya mba, jadi kerja disini deh”. Luna yang mendengar hal itu mengangguk paham dan membulatkan bibirnya berbentuk O. “ Emang sekarang menejer nya bukan paman nya mba lagi ya? terus dulu mba kerja punya temen atau emang sendiri aja?”Tanya Luna kembali. “ Satu tahun ini udah bukan paman mba lagi, soalnya beliau udah berpulang. Terus dulu mba punya temen sih disini tapi dia nya resign soalnya dia hamil, ibu hamil kan ga boleh cape”Ucap Hera menjawab pertanyaan dari Luna. “ Innalillahi, aku turut berduka ya mba, walaupun telat hehe”. Hera tersenyum mendengar penuturan Luna yang masih cengengesan, “Iya gapapa kok”. Jawabnya lembut.
Hari demi hari, bulan demi bulan, Luna dan Hera semakin dekat. Bahkan sekarang hubungan mereka tidak seperti teman lagi melainkan seperti sepasang kakak beradik yang sedang bekerja bersama, mereka sering bertukar cerita dan pengalaman hidup mereka, mendukung satu sama lain, dan masih banyak hal seru yang mereka lakukan.
“Eh iya mba, aku belum ceritain cafe ayahku ya ke mba aku baru inget sekarang mba”Celetuk Luna ke para Hera yang sedang mencuci piring dan gelas kotor. “Emang nya kamu udah siap buat cerita ke mba? kalo belum ya jangan di paksa, nanti sakit nya terulang lagi”Ucap Hera. “Udah kok mba, kita kan udah deket, mba udah kaya kakak aku tau”Jawab Luna dengan percaya diri. “Ahaha yaudah kalo gitu, cerita aja sini sama mba”. Luna pun mulai bercerita kepada Hera tentang cafe ayah nya dulu, “ Sebenarnya dulu ayah punya cafe besar tau mba, dulu itu cafe rame banget, cukup terkenal juga lah di daerah rumah ku dulu, tapi pas ayah meninggal abang mulai keluyuran ga jelas sama temen - temen nya, dia mulai minum minuman keras, sampe konsumsi obat obatan terlarang juga kaya narkoba.
Tiga tahun hidup ga jelas kaya gitu, abang ketahuan polisi dan di penjara, tiba - tiba aja ada yang nelpon nagih utang katanya sih dari pinjol atas nama abang, hutang nya juga banyak banget mungkin karena bunga nya yang terus nambah karena ga di bayar bayar, karena itu ya aku jadinya jual cafe ayah, selang beberapa bulan setelah jual cafe dan lunasin hutang pinjol abang, ada yang dateng lagi kerumah katanya rumah di gadai in sama abang, karena udah jatuh tempo rumah nya jadi di tarik. Makanya sekarang aku nge kost sama kerja disini mba, bingung mau gimana”Ucap Luna sambil menahan air mata nya yang sebentar lagi akan mengalir di pipi yang sudah memerah.
Mendengar itu Hera tersenyum dan mengelus punggung Luna yang mulai bergetar karena terisak, “ Kamu kuat banget bisa jalanin ujian hidup se berat itu, mungkin kalo mba di posisi kamu, mba ga bakalan kuat. Kamu hebat banget bisa hadepin itu dan bisa di titik sekarang ”. Ucapnya menenangkan Luna. “Iya mba, aku yakin aku bisa hadepin ini dan bisa jadi lebih kuat dari diriku yang sebelumnya, makasih ya mba udah mau dengerin cerita aku, makasih juga udah mau aku anggep jadi sosok kakak atau mba yang selalu bisa bantu aku, walaupun kita baru kenal setahun ini tapi mba sangat berkesan di hidup aku”. Ucap Luna sambil terisak pelan, Hera pun. memeluk Luna dan ikut menangis harus karena kesan yang diberikan oleh Luna.
“Iya gapapa, kalo kamu ada apa apaa jangan sungkan untuk cerita ke mba, Jagan takut minta tolong ke mba”. Di malam yang indah dengan sinar rembulan mereka berdua berpelukan melepas segala beban yang di tanggung dan menyalurkan emosi mereka masing masing.
Dari hari itu Luna mencoba melupakan kejadian di masa lalu yang kelam, ia menjadikan semua beban yang ia tanggung menjadi pelajaran untuk menjadi diri yang lebih kuat dari sebelumnya. Ia percaya bahwa hari baru bisa memunculkan kehidupan yang baru.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
LOMBA MENULIS cerpen FLS3N atas nama Siti Rodiah KELAS XI-1 "JEJAK YANG TERTINGGAL"
Jejak yang TertinggalKarya : Siti Rodiah Harahap Kelas XI-1 Senja selalu datang dengan cara yang sama, perlahan tanpa suara namun menyimpan jejak yang kasat mata.langit meredup,an
Cerpen Berjudul "Langit yang Retak di Kepala Salsabila" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1
Langit yang Retak di Kepala Salsabila Sejak kecil, Salsabila tahu satu hal: ia harus selalu lebih baik agar dianggap setara.Ia juara kelas. Ia sopan. Ia tak pernah membant
Cerpen Berjudul "Aku Tetap Tenggelam" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1 SMA Negeri 1 Angkola Barat
Aku Tetap Tenggelam Langit sore itu berwarna pucat. Tidak gelap sepenuhnya, tetapi juga tidak benar-benar terang. Seperti perasaanku tidak hancur, namun juga tidak utuh. Namaku Alya.
Cerpen Berjudul "Di Antara Lonceng dan Layar" Karya Nirmala Hapni Kelas XII-5
Di Antara Lonceng dan Layar Pagi itu, lonceng sekolah berbunyi seperti biasa. Nyaring, panjang, dan seharusnya memberi tanda dimulainya hari penuh harapan. Namun bagi Raka
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Qori Saulina Hutagalung Kelas XII-5
HARI BARU, HIDUP BARU Karya Qori Saulina Hutagalung Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil me
Cerpen Berjudul "Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan" Karya Dari Rodiah Kelas XI-5
Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan Di sebuah SMA yang terkenal dengan siswanya yang modis dan gaul, ada seorang gadis bernama Alya. Ia berbeda dari kebanyakan teman-temannya. S
Cerpen Berjudul "Cinta yang Tersimpan" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1
Cinta yang Tersimpan Karya Siti Rodiah XI-1 Sebuah desa yang tenang, terdapat seorang gadis bernama Aisyah. Sejak kecil, Aisyah diajarkan untuk selalu menjaga dirinya dengan pe
Puisi Yang Berjudul "Pendidikan Yang Memudar" Karya Dian Eriani Kelas XII-1
Pendidikan Yang Memudar Dian Eriani XII-1 Pendidikan yang Memudar Dinding sekolah retak dan berdebu, Buku-buku usang, tinta pun lesu. Suara guru tak lagi menggelegar, Pend
Cerpen Berjudul "Menjadi Ayah Bagi Banyak Orang" Karya Nurhapni Kelas XI-5
Bimo berdiri di depan panti asuhan yang menyimpan segala kenangan masa kecilnya otaknya seakan kembali memutar segala memori yang telah lama ia simpan sendiri. "Tidak terasa ya sud
Sebuah Puisi Berjudul "Aku Ingin Menggapai Bintang dengan Seutas Tali" Karya Dian Eriani Rambe Kelas XI-1
Aku Ingin Menggapai Bintang dengan Seutas Tali Karya Dian Eriani Rambe Aku ingin menggapai bintang bukan bintang yang berkilau di langit tapi bintang dalam hidupku cita-cit

