• SMA NEGERI 1 ANGKOLA BARAT
  • #Bekerja Melampaui Tupoksi

Cerpen Berjudul "Di Antara Lonceng dan Layar" Karya Nirmala Hapni Kelas XII-5

Di Antara Lonceng dan Layar

   Pagi itu, lonceng sekolah berbunyi seperti biasa. Nyaring, panjang, dan seharusnya memberi tanda dimulainya hari penuh harapan. Namun bagi Raka guru Bahasa Indonesia yang sudah mengabdi hampir lima belas tahun, bunyi lonceng itu sering terdengar seperti panggilan ke medan yang sama sekali tidak mudah. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah ke kelas XI IPA 3, kelas yang belakangan ini membuatnya sering pulang dengan kepala penuh dan hati yang berat.

   Kelas itu ramai bahkan sebelum ia membuka pintu. Suara tawa, kursi yang digeser asal-asalan, dan—yang paling menyita perhatiannya—layar-layar ponsel yang menyala di tangan murid-muridnya. Raka berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menatap mereka, bukan dengan marah, melainkan dengan rasa lelah yang tak bisa disembunyikan.

“Selamat pagi,” sapanya pelan.

  Sebagian murid menjawab, sebagian lagi tidak. Beberapa bahkan tidak menoleh, jari-jarinya masih menari di atas layar.

  Raka masuk dan berdiri di depan kelas. Ia menunggu. Lima detik. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Suasana sedikit mereda, tapi belum sepenuhnya hening. Ia tidak lagi berteriak seperti dulu. Ia sudah belajar bahwa suara keras sering kalah oleh notifikasi.

“Hari ini kita akan membahas cerpen,” katanya. “Tentang empati.”

   Beberapa murid mendengus. Ada yang berbisik, ada yang tersenyum miring. Raka pura-pura tidak melihat, meski hatinya mencatat satu per satu. Ia memulai pelajaran dengan cerita sederhana, berharap ada celah kecil yang bisa ia masuki untuk menyentuh mereka. Namun, baru lima menit berjalan, sebuah suara menyela.

“Pak, ini penting nggak sih buat masa depan?”

   Pertanyaan itu datang dari Dimas, murid cerdas tapi sinis. Raka terdiam sejenak. Pertanyaan itu bukan yang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir. Ia menatap Dimas, lalu seluruh kelas.

“Penting atau tidak, tergantung bagaimana kamu memaknainya,” jawabnya akhirnya.

  Dimas mengangkat bahu. “Soalnya yang penting kan cuan, Pak.”

   Tawa kecil menyebar. Raka tersenyum tipis, tapi di dalam dadanya ada sesuatu yang mengendur. Ia teringat masa mudanya, ketika sekolah adalah tempat bermimpi, bukan sekadar tangga menuju angka.

  Hari itu berakhir dengan tugas yang dikumpulkan seadanya. Beberapa murid bahkan tidak mengumpulkan sama sekali. Raka membawa pulang setumpuk kertas, bersama perasaan gagal yang berulang kali mampir tanpa diundang.

   Di rumah, Raka duduk di meja makan dengan buku-buku yang belum sempat dibuka. Istrinya, Mira, menyuguhkan teh hangat.

“Kamu capek,” kata Mira, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.

  Raka mengangguk. “Kadang aku merasa, mereka tidak butuh guru. Mereka hanya butuh sinyal.”Mira tersenyum pahit. “Atau mungkin mereka butuh guru yang lebih sabar.” Raka terdiam. Sabar. Kata itu terasa besar dan berat.

   Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama. Ada murid yang tertidur di kelas, ada yang sibuk membuat video, ada yang terang-terangan melawan. Raka mencoba berbagai cara: diskusi kelompok, permainan peran, bahkan mengaitkan materi dengan hal-hal yang sedang tren. Ada hasil kecil, tapi sering kali tenggelam oleh gelombang yang lebih besar.

  Suatu hari, ia memergoki Sinta—murid yang selama ini pendiam—menangis di tangga belakang sekolah. Raka mendekat dengan hati-hati.

“Sinta, kamu kenapa?”

Sinta mengusap air matanya. “Saya capek, Pak.”

“Capek belajar?”

  Sinta menggeleng. “Capek dibilang malas. Capek dibilang nggak punya masa depan. Di rumah, di sekolah, sama saja.” Kalimat itu menghantam Raka tanpa aba-aba. Ia duduk di samping Sinta, jarak mereka cukup dekat untuk berbagi diam.

“Kamu tahu,” kata Raka pelan, “menjadi guru juga capek. Tapi bukan karena murid bandel. Melainkan karena takut gagal memahami.”

  Sinta menoleh. Matanya merah, tapi penuh perhatian.

“Pak Raka nggak gagal,” katanya lirih.

   Raka tersenyum, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum itu terasa sampai ke hati. Sejak hari itu, Raka mulai mengubah caranya memandang kelas. Ia berhenti menuntut semua murid untuk sama. Ia mulai mendengar lebih banyak, berbicara lebih sedikit. Ia memberi ruang bagi cerita-cerita kecil yang sering terabaikan.

   Tidak semua berubah drastis. Dimas masih sinis, ponsel masih menyala, tugas masih ada yang terlambat. Namun, di sela-sela kekacauan itu, Raka menemukan momen-momen kecil: Sinta yang berani membaca cerpennya di depan kelas, tawa yang muncul bukan karena ejekan, dan diskusi yang, meski singkat, terasa jujur.

   Suatu sore, setelah kelas usai, Dimas menghampiri Raka.

“Pak,” katanya ragu. “Cerpen yang kemarin… saya kepikiran.”

Raka menatapnya, menunggu.

“Boleh nggak kalau saya nulis tentang diri saya sendiri?”

Raka mengangguk. “Boleh. Justru itu yang paling penting.”

   Dimas tersenyum kecil. Bukan senyum mengejek, melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan pintu. Malam itu, Raka menulis di buku catatannya : "Mendidik murid zaman sekarang bukan tentang melawan layar, tapi tentang menemukan celah di baliknya". Bukan tentang menang, melainkan bertahan dengan hati tetap utuh.

  Ia tahu, besok lonceng akan kembali berbunyi. Tantangan tidak akan berkurang. Namun kini, ia melangkah dengan keyakinan yang lebih tenang. Karena di antara sulitnya mendidik murid zaman now, selalu ada satu hal yang layak diperjuangkan: harapan kecil yang tumbuh diam-diam di ruang kelas.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
LOMBA MENULIS cerpen FLS3N atas nama Siti Rodiah KELAS XI-1 "JEJAK YANG TERTINGGAL"

Jejak yang TertinggalKarya : Siti Rodiah Harahap Kelas XI-1 Senja selalu datang dengan cara yang sama, perlahan tanpa suara namun menyimpan jejak yang kasat mata.langit meredup,an

13/05/2026 20:17 - Oleh MORA YANTHI PANGGABEAN, S.Pd - Dilihat 21 kali
Cerpen Berjudul "Langit yang Retak di Kepala Salsabila" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1

Langit yang Retak di Kepala Salsabila    Sejak kecil, Salsabila tahu satu hal: ia harus selalu lebih baik agar dianggap setara.Ia juara kelas. Ia sopan. Ia tak pernah membant

20/04/2026 20:10 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 48 kali
Cerpen Berjudul "Aku Tetap Tenggelam" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1 SMA Negeri 1 Angkola Barat

Aku Tetap Tenggelam Langit sore itu berwarna pucat. Tidak gelap sepenuhnya, tetapi juga tidak benar-benar terang. Seperti perasaanku tidak hancur, namun juga tidak utuh. Namaku Alya.

31/03/2026 21:36 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 882 kali
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Qori Saulina Hutagalung Kelas XII-5

HARI BARU, HIDUP BARU Karya Qori Saulina Hutagalung    Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil me

29/11/2025 15:56 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 14 kali
Cerpen Berjudul "Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan" Karya Dari Rodiah Kelas XI-5

Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan   Di sebuah SMA yang terkenal dengan siswanya yang modis dan gaul, ada seorang gadis bernama Alya. Ia berbeda dari kebanyakan teman-temannya. S

26/10/2025 18:51 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 22 kali
Cerpen Berjudul "Cinta yang Tersimpan" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1

Cinta yang Tersimpan Karya Siti Rodiah XI-1   Sebuah desa yang tenang, terdapat seorang gadis bernama Aisyah. Sejak kecil, Aisyah diajarkan untuk selalu menjaga dirinya dengan pe

30/08/2025 19:49 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 36 kali
Puisi Yang Berjudul "Pendidikan Yang Memudar" Karya Dian Eriani Kelas XII-1

Pendidikan Yang Memudar Dian Eriani XII-1   Pendidikan yang Memudar Dinding sekolah retak dan berdebu, Buku-buku usang, tinta pun lesu. Suara guru tak lagi menggelegar, Pend

31/07/2025 23:28 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 17 kali
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Nirmala Hapni Hasibuan Siswa Kelas XII-5

Hari Baru Hidup Baru     Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil meregangkan otot-otot nya. &ldqu

29/06/2025 18:32 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 57 kali
Cerpen Berjudul "Menjadi Ayah Bagi Banyak Orang" Karya Nurhapni Kelas XI-5

Bimo berdiri di depan panti asuhan yang menyimpan segala kenangan masa kecilnya otaknya seakan kembali memutar segala memori yang telah lama ia simpan sendiri. "Tidak terasa ya sud

03/06/2025 22:51 - Oleh MORA YANTHI PANGGABEAN, S.Pd - Dilihat 20 kali
Sebuah Puisi Berjudul "Aku Ingin Menggapai Bintang dengan Seutas Tali" Karya Dian Eriani Rambe Kelas XI-1

Aku Ingin Menggapai Bintang dengan Seutas Tali Karya Dian Eriani Rambe   Aku ingin menggapai bintang bukan bintang yang berkilau di langit tapi bintang dalam hidupku cita-cit

30/05/2025 20:46 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 47 kali