Cerpen Berjudul "Menjadi Ayah Bagi Banyak Orang" Karya Nurhapni Kelas XI-5
Bimo berdiri di depan panti asuhan yang menyimpan segala kenangan masa kecilnya otaknya seakan kembali memutar segala memori yang telah lama ia simpan sendiri.
"Tidak terasa ya sudah 18 tahunyang lalu aku pergi meninggalkan tempat ini" gumamnya sambil menatap nanar panti asuhan tersebut tiba-tiba seorang anak menghampiri Bimo dan membuyarkan lamunanya "Bapak sedang apa di depan rumah kami?"tanya seorang gadis kecil sambil menarik ujung kemeja Bimo.
Bimo terkejut dan menatap ke arah gadis kecil tersebut "Rumah? kamu tinggal di panti asuhan ini juga?"tanya Bimo"iya .ibu panti bilang tempat ini bukan panti asuhan.tapi rumah kami"ucap gadis tersebut dengan tegas.Bimo tersenyum mendengar penuturan gadis itu"Nama kamu siapa kalau boleh tau?"tanya Bimo sambil tersenyum "Nama aku mira ,pak"jawab gadis itu sambil membalas senyum Bimo "Bapak mau ikut aku masuk ke dalam?sudah jam makan siang lo pak" Mendegar pertanyaan mira ,Bimo mengangguk kan kepala nya.
"Boleh,tujuan bapak memang mau berkinjung ke sini"Mira membulatkan bibirnya (berbentuk O)tanda paham "Bapak pernah datang kesini emang?kok aku gak pernah liat??"
Bapak gak pernah berkunjung kesini ,tapi bapak pernah tinggal di tempat ini ini selama 18 tahun"ucap Bimo. "Wah bapak juga pernah tinggal di rumah ini"?
Tanya Mira dengan mata yang berbinar "iya"ucapBimo sambil mengelus rambut Mira.Tak terasa mereka telah memasuki lorong panti asuhan,Mira berlari ke arah wanita tua yang sedang membersihkan Pot bunga "IBUUU ADA BAPAK YANG BERKUNJUNG "Teriak Mira.Wanita tua itu terkejut dengan kehadiran Mira "Bapak Siapa,sayang?Tanya wanita tua itu heran ."itu Tunjuk Mira wanita tua itu menoleh kebelakang dan melihat Bimo yang berdiri sambil tersenyum ,mata mereka bertemu "ASTAGA BIMO,INI KAMU?"Wanita tua itu berlari sambil berteriak seakan ia lupa dengan umurnya yang sudah tak muda lagi."Ah iya buk ini Bimo.Ibu rindu Bimo tidak?"Tanyak Bimo sambil sambil memeluk wanita tua yang ia sebut ibu itu."Ibu rindu sekali Bimo.kenapa tidak kesini hah?sudah lupa ya sama ibu?"Tanya wanita tua itu sambil memukul pelan Pundak Bimo."Ahahahah bukan begitu bu..baru sempat saja. Bimo sedang banyak Urusan."Jawab Bimo sambil tertawa.
Setelah melepas rindu,Bimo,Mira,dan Ibu Panti berjalan menuju aula Panti asuhan "Panti asuhan nya semakin bagus ya buk"ucap Bimo sambil melihat sekeliling Panti asuhan "iya,tiga tahun lalu ada yang memberikan dana besar untuk renovasi panti,jadi panti asuhannya semakin bagus"(jawab Ibu Panti)
"Aku mau main sama teman-teman dulu ya buk,Pak"ucap Mira sambil berlari ke sekumpulan anak-anak yang sedang bermain.
Hari mulai gelap,anak-anak di panti kembali ke kamar nya masing-masing untuk menjemput mimpinya .Bimo duduk di aula Panti dengan sunyinya angin malam yang menerpa dinginnya malam yang sepi."Bimo kenapa belum tidur?kamarnya kurang nyaman?Tanya ibu panti sambil menghampiri Bimo.Bimo sontak menoleh ke arah ibu panti "Eh bukan buk.cuma belum NGANTUK saja "Ibu Panti duduk disebelah Bimo. "Buk Bimo mau tanyak sesuatu "Ucap Bimo dengan serius.Ibu Panti yang mendengar tutur kata yang tegas dari Bimo lantas menjawab "Nanya apa Bimo ?Apa ada hal yang menjanggalkan ?"Tanya Ibu Panti.
Bimo menatap kosong kedepan dan kembali bertanya "Apakah semua anak ini di titipkan seperti aku dulu buk?"Ibu Panti yang mendengar Pertanyaan tersebut menatap sendu ke arah Bimo ."Apa luka lama nya belum sembuh,Bimo?"Bimo tersenyum."sudah buk,tapi kadang masih ada banyangan saat di tinggal ayah dulu di depan panti "Ibu Panti mengangguk Paham "Tak apa nak .memang semua itu butuh waktu. Anak-anak disini tidak semua di titip kan karena tidak di inginkan.sebagian memang karena keluarganya tidak mampu"ucap Ibu Panti sambil mengelus bahu Bimo . "Ah.bagus lah buk,sakit mendengarkanya jika semua anak disini sama dengan ku dulu "ucap Bimo lega.
"Apa Pria itu pernah datang kemari lagi untuk sekedar bertanya apa ku masih hidup atau tidak? "Ibu Panti yang mengerti tentang pria yang di sebut Bimo pun kembali mengelus bahu Bimo."itu ayahmu Bimo.bagaimanapun dia tetap ayahmu"ucap Ibu panti."Dia saja tidak menganggapku sebagai anak bagaimana aku bisa menganggapnya sebagai ayah "ucap Bimo dengan tegas "yasudah .semua butuh waktu lama kelamaan Pasti nak Bimo bisa menerima kenyataannya ya "ucap Ibu Panti dan Bimo pun kembali ke kamar mereka masing-masing.
Jam dinding bersenandung di sepi nya malam menemani Bimo yang masih memutar memori saat ayahnya meninggalkannya seorang diri di depan Panti asuhan "Ayah,mengapa aku diturunkan disini? kita akan pindah kesini ayah? Apa Ibu akan datang kemari juga ayah?"Bimo kecil melemparkan banyak Pertanyaan kepada ayah nya yang sedang menurunkan barang-barang dari bagasi mobil"sudah.jangan banyak omong,tinggal disini dan bersikap baiklah.Tidak ada yang menginginkan mu lagi .Ibumu sudah Pergi dengan Pria miskin Pilihannya ,aku juga tidak mau mengurus anak dari perempuan tidak benar ,jadilah orang yang terbuang seperti Ibumu. Ucap ayah Bimo dengan sedikit berteriak "Ayah jangan tinggalkan Bimo disini.Bimo masih sayang ayah "Tanpa memperdulikan Penuturan Bimo .Ayah Bimo membanting Pintu mobil dan meninggalkan Bimo kecil seorang diri.
Bimo menampar Pipi nya dengan keras "Ayo Bimo bodoh lupakan semua itu,ini sudah 22 tahun yang lalu" ucapnya dengan nafas yang terengah-engah .Bimo memejamkan matanya untuk melupakan semua kejadian yang kembali menghantui Pikirannya ."sudah lah semua ini sudah berlalu .aku akan berusaha menjadi ayah untuk anak-anak di Panti ini,ayah yang baik dan tidak akan berteriak kepada anak-anak "ucapnya meyakinkan dirinya sendiri. sudah hampir sepertiga malam Bimo merenungi kejadian di masa lampau nya yang terus menghantuinya.ia kembali berbaring di kasurnya dan memejamkan mata nya.tak terasa kantuk telah menjemputnya.Mentari memancarkan cahaya nya,burung bersiul seakan membangun kan tidur nyenyak Bimo. "sudah jam 7 saja,aku tidur begitu nyenyak"ucap Bimo sambil Meregangkan tubuhnya.Bimo keluar kamar Panti dan disambut dengan Pemandangan anak-anak yang sedang bermain dan berlarian di halaman Panti,Bimo tersenyum senang melihat suasana Pagi yang ia dapatkan ." Nak Bimo sudah bangun?kenapa tidak ke aula untuk ambil sarapan? atau mau ibu ambilkan saja? "Tanyak Ibu panti .
"Asatga buk tidak usah repot-repot.Bimo ini sudah besar,bisa ambil sendiri. "ucap Bimo.Ibu panti yang mendengar hal itu tertawa sambil menatap Bimo "Hahahah sudah besar ya,jadi kapan Ibu dapat menantu dari Bimo? "ucap buk panti dengan wajah menggoda , "Ah ibu ini ,aku masih belum siap untuk menikah buk,tapi apakah boleh buk jika Bimo tinggal di panti asuhan ini dan berperan sebagai ayah? maksud kamu nak? "Ibu panti menatap heran. "Bimo ingin tinggal disin,membantu Ibu panti menatap heran. "Bimo ingin tinggal disini,membantu Ibu mengurus anak-anak dan Bimo akan berperan sebagai ayah yang baik untuk anak-anak."Ibu Panti memeluk Bimo dengan erat. "Astaga Bimo.kamu ini memang sudah besar ya " Bimo membalas pelukan dari Ibu panti "Jadi,boleh atau tidak buk?" Ibu Panti melepas pelukan mereka dan menatap Bimo "Tentu saja boleh nak,Ibu malah senang ada yang mau menemani Ibu untuk mengurus anak-anak,apalagi itu Bimo "ucap ibu Panti dengan wajah yang sumringah.
Hari demi hari,bulan demi bulan,tahun pun berganti Bimo akhirnya menjadi "Ayah "bagi anak-anak di panti asuhan tersebut.ia membantu Ibu Panti mengurus anak-anak,memberikan kasih sayang,dan menjadikan contoh yang baik bagi mereka.dengan demikian.Bimo bisa melupakan masa lalunya yang kelam dan menemukan kebahagiaan baru sebagai Ayah bagi banyak orang.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
LOMBA MENULIS cerpen FLS3N atas nama Siti Rodiah KELAS XI-1 "JEJAK YANG TERTINGGAL"
Jejak yang TertinggalKarya : Siti Rodiah Harahap Kelas XI-1 Senja selalu datang dengan cara yang sama, perlahan tanpa suara namun menyimpan jejak yang kasat mata.langit meredup,an
Cerpen Berjudul "Langit yang Retak di Kepala Salsabila" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1
Langit yang Retak di Kepala Salsabila Sejak kecil, Salsabila tahu satu hal: ia harus selalu lebih baik agar dianggap setara.Ia juara kelas. Ia sopan. Ia tak pernah membant
Cerpen Berjudul "Aku Tetap Tenggelam" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1 SMA Negeri 1 Angkola Barat
Aku Tetap Tenggelam Langit sore itu berwarna pucat. Tidak gelap sepenuhnya, tetapi juga tidak benar-benar terang. Seperti perasaanku tidak hancur, namun juga tidak utuh. Namaku Alya.
Cerpen Berjudul "Di Antara Lonceng dan Layar" Karya Nirmala Hapni Kelas XII-5
Di Antara Lonceng dan Layar Pagi itu, lonceng sekolah berbunyi seperti biasa. Nyaring, panjang, dan seharusnya memberi tanda dimulainya hari penuh harapan. Namun bagi Raka
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Qori Saulina Hutagalung Kelas XII-5
HARI BARU, HIDUP BARU Karya Qori Saulina Hutagalung Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil me
Cerpen Berjudul "Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan" Karya Dari Rodiah Kelas XI-5
Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan Di sebuah SMA yang terkenal dengan siswanya yang modis dan gaul, ada seorang gadis bernama Alya. Ia berbeda dari kebanyakan teman-temannya. S
Cerpen Berjudul "Cinta yang Tersimpan" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1
Cinta yang Tersimpan Karya Siti Rodiah XI-1 Sebuah desa yang tenang, terdapat seorang gadis bernama Aisyah. Sejak kecil, Aisyah diajarkan untuk selalu menjaga dirinya dengan pe
Puisi Yang Berjudul "Pendidikan Yang Memudar" Karya Dian Eriani Kelas XII-1
Pendidikan Yang Memudar Dian Eriani XII-1 Pendidikan yang Memudar Dinding sekolah retak dan berdebu, Buku-buku usang, tinta pun lesu. Suara guru tak lagi menggelegar, Pend
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Nirmala Hapni Hasibuan Siswa Kelas XII-5
Hari Baru Hidup Baru Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil meregangkan otot-otot nya. &ldqu
Sebuah Puisi Berjudul "Aku Ingin Menggapai Bintang dengan Seutas Tali" Karya Dian Eriani Rambe Kelas XI-1
Aku Ingin Menggapai Bintang dengan Seutas Tali Karya Dian Eriani Rambe Aku ingin menggapai bintang bukan bintang yang berkilau di langit tapi bintang dalam hidupku cita-cit

