Cerpen Berjudul "Aku Tetap Tenggelam" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1 SMA Negeri 1 Angkola Barat
Aku Tetap Tenggelam
Langit sore itu berwarna pucat. Tidak gelap sepenuhnya, tetapi juga tidak benar-benar terang. Seperti perasaanku tidak hancur, namun juga tidak utuh.
Namaku Alya. Di sekolah, aku dikenal sebagai anak yang rajin. Anak yang selalu duduk di bangku depan. Anak yang jarang membuat masalah. Guru-guru menyukaiku. Teman-teman menganggapku pintar. Dan tahun ini, aku menjadi juara kelas.
Semua orang tersenyum. Teman-temanku menepuk bahuku. Wali kelasku berkata aku pantas mendapatkannya. Bahkan namaku disebut di depan seluruh siswa saat upacara.
Aku berdiri di sana dengan piala kecil di tangan dan senyum yang sudah ku persiapkan sejak lama. Aku pikir, setelah ini semuanya akan berbeda. Aku pikir, setelah ini aku akan benar-benar dilihat. Namun ternyata aku salah.
Sesampainya di rumah, aku menunjukkan sertifikat itu kepada Ayah dan Ibu dengan hati yang berdebar. Rasanya seperti membawa sesuatu yang sangat berharga.
Ibu melihatnya sekilas, lalu berkata, “Bagus. Tapi kamu harus pertahankan. Jangan sampai turun peringkat.”Ayah hanya mengangguk sambil tetap menatap layar ponselnya.Tidak ada pelukan.Tidak ada kalimat bangga. Tidak ada cahaya di mata mereka seperti yang selalu kulihat saat kakakku meraih sesuatu.
Kakakku memang selalu lebih bersinar. Lebih sering disebut. Lebih sering dibanggakan. Bahkan ketika ia hanya mendapatkan peringkat tiga di sekolahnya dulu, seluruh keluarga besar datang memberi selamat.
Sedangkan aku?
Aku juara kelas, tetapi rasanya seperti tidak ada yang benar-benar peduli. Malam itu aku duduk di kamar, memandangi sertifikat yang tadi begitu kubanggakan. Kini kertas itu hanya terasa seperti kertas biasa. Aku bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya kurang dariku?
Bukankah ini yang selama ini mereka inginkan?
Bukankah aku sudah berusaha?
Bukankah aku sudah memberikan yang terbaik?
Namun mengapa rasanya tetap kosong?
Hari-hari berikutnya aku tetap berangkat sekolah seperti biasa. Tetap belajar. Tetap tersenyum. Bahkan ketika teman-temanku memuji, aku hanya menjawab dengan santai.
Mereka tidak tahu, setiap malam aku merasa seperti berjalan sendirian di dalam air yang semakin lama semakin dalam.
Aku tidak menangis keras-keras.
Aku tidak berteriak.
Aku hanya diam.
Dan justru karena diam itulah, tidak ada yang tahu bahwa aku sedang tenggelam.
Suatu hari, wali kelasku menahanku setelah pelajaran selesai.
"Kamu terlihat lebih pendiam dari biasanya,” katanya lembut.
Aku tersenyum seperti biasa. “Saya baik-baik saja, Bu.”
Beliau menatapku lebih lama dari biasanya. “Nilai yang tinggi tidak selalu berarti hatinya juga ringan.”
Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.
Untuk pertama kalinya, ada yang melihat lebih dari sekadar angka di raporku.
Aku tidak langsung bercerita panjang. Aku hanya mengangguk pelan. Namun dalam perjalanan pulang, kata-kata itu terus terngiang.
Mungkin selama ini aku terlalu fokus membuktikan diri, sampai lupa bertanya pada diriku sendiri apakah aku bahagia.
Aku ingin dibanggakan.
Aku ingin diakui.
Aku ingin sekali saja didengar tanpa harus dibandingkan.
Tetapi semakin aku berusaha memenuhi harapan, semakin aku merasa hilang di dalamnya.
Aku tetap menjadi juara kelas.
Namun di rumah, aku tetap terasa kecil.
Aku tetap tersenyum.
Namun di dalam hati, aku terasa semakin jauh.
Aku tetap berprestasi.
Namun perasaanku perlahan tenggelam.
Sampai suatu malam, aku berdiri di depan cermin. Menatap wajahku sendiri yang terlihat lelah.
“Aku sudah berusaha,” bisikku pelan.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menyalahkan diriku sendiri.
Mungkin selama ini aku tenggelam bukan karena aku kurang hebat.
Bukan karena aku tidak cukup pintar.
Tetapi karena aku terlalu lama berenang sendirian, mencoba mencapai permukaan yang tidak pernah benar-benar memberiku udara.
Aku tidak bisa mengubah cara orang lain memandangku dalam semalam.
Aku tidak bisa memaksa mereka untuk langsung mengerti.
Namun aku bisa belajar satu hal.
Bahwa nilainya tinggi atau rendah, peringkat satu atau bukan, aku tetap berharga.
Mungkin hari ini aku masih merasa tenggelam.
Masih terasa berat di dada setiap kali harapan terasa lebih besar daripada pelukan.
Namun aku mulai belajar menerima diriku sendiri, walaupun dunia belum sepenuhnya menerimaku seperti yang kuharapkan.
Dan jika suatu hari nanti aku kembali berdiri sebagai juara kelas,
aku ingin melakukannya bukan lagi untuk didengar,
tetapi karena aku menghargai diriku sendiri.
Jika pun aku tetap tenggelam hari ini,
setidaknya aku tahu,
aku sedang belajar berenang tanpa kehilangan siapa diriku sebenarnya.
Komentar
Sangat bagus
Sangat bagus
Sangat bagus
Sangat bagus
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
LOMBA MENULIS cerpen FLS3N atas nama Siti Rodiah KELAS XI-1 "JEJAK YANG TERTINGGAL"
Jejak yang TertinggalKarya : Siti Rodiah Harahap Kelas XI-1 Senja selalu datang dengan cara yang sama, perlahan tanpa suara namun menyimpan jejak yang kasat mata.langit meredup,an
Cerpen Berjudul "Langit yang Retak di Kepala Salsabila" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1
Langit yang Retak di Kepala Salsabila Sejak kecil, Salsabila tahu satu hal: ia harus selalu lebih baik agar dianggap setara.Ia juara kelas. Ia sopan. Ia tak pernah membant
Cerpen Berjudul "Di Antara Lonceng dan Layar" Karya Nirmala Hapni Kelas XII-5
Di Antara Lonceng dan Layar Pagi itu, lonceng sekolah berbunyi seperti biasa. Nyaring, panjang, dan seharusnya memberi tanda dimulainya hari penuh harapan. Namun bagi Raka
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Qori Saulina Hutagalung Kelas XII-5
HARI BARU, HIDUP BARU Karya Qori Saulina Hutagalung Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil me
Cerpen Berjudul "Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan" Karya Dari Rodiah Kelas XI-5
Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan Di sebuah SMA yang terkenal dengan siswanya yang modis dan gaul, ada seorang gadis bernama Alya. Ia berbeda dari kebanyakan teman-temannya. S
Cerpen Berjudul "Cinta yang Tersimpan" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1
Cinta yang Tersimpan Karya Siti Rodiah XI-1 Sebuah desa yang tenang, terdapat seorang gadis bernama Aisyah. Sejak kecil, Aisyah diajarkan untuk selalu menjaga dirinya dengan pe
Puisi Yang Berjudul "Pendidikan Yang Memudar" Karya Dian Eriani Kelas XII-1
Pendidikan Yang Memudar Dian Eriani XII-1 Pendidikan yang Memudar Dinding sekolah retak dan berdebu, Buku-buku usang, tinta pun lesu. Suara guru tak lagi menggelegar, Pend
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Nirmala Hapni Hasibuan Siswa Kelas XII-5
Hari Baru Hidup Baru Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil meregangkan otot-otot nya. &ldqu
Cerpen Berjudul "Menjadi Ayah Bagi Banyak Orang" Karya Nurhapni Kelas XI-5
Bimo berdiri di depan panti asuhan yang menyimpan segala kenangan masa kecilnya otaknya seakan kembali memutar segala memori yang telah lama ia simpan sendiri. "Tidak terasa ya sud
Sebuah Puisi Berjudul "Aku Ingin Menggapai Bintang dengan Seutas Tali" Karya Dian Eriani Rambe Kelas XI-1
Aku Ingin Menggapai Bintang dengan Seutas Tali Karya Dian Eriani Rambe Aku ingin menggapai bintang bukan bintang yang berkilau di langit tapi bintang dalam hidupku cita-cit


Sangat bagus