• SMA NEGERI 1 ANGKOLA BARAT
  • #Bekerja Melampaui Tupoksi

Cerpen Berjudul "Langit yang Retak di Kepala Salsabila" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1

Langit yang Retak di Kepala Salsabila

   Sejak kecil, Salsabila tahu satu hal: ia harus selalu lebih baik agar dianggap setara.Ia juara kelas. Ia sopan. Ia tak pernah membantah.

 Namun tetap saja, ketika uang tak cukup, namanyalah yang pertama dicoret dari daftar sekolah.

“Adikmu laki-laki,” kata ayahnya tanpa menatap wajahnya. “Dia yang akan jadi tulang punggung.”

Seolah-olah ia bukan tulang.

Seolah-olah ia hanya bayangan.

   Beasiswa itu datang seperti napas tambahan bagi paru-parunya. Ia kembali sekolah. Kembali bermimpi. Kembali percaya bahwa mungkin dunia tidak sepenuhnya kejam.

Tapi dunia punya cara lain untuk mengujinya.

  Suatu sore, saat matahari turun setengah, ia berjalan melewati deretan kios tua dekat pasar. Biasanya ia cepat-cepat lewat. Tapi hari itu, langkahnya diperlambat oleh suara.

“Sekolah tinggi-tinggi, tapi tetap saja perempuan.”

Tawa rendah menyusul.

Ia menunduk. Berusaha tidak mendengar.

“Lihat cara jalannya… merasa paling pintar.”

Langkahnya semakin cepat. Jantungnya memukul keras. Nafasnya sesak.

  Salah satu dari mereka berdiri dan mendekat, menghalangi jalan. Tatapan itu bukan sekadar melihat tatapan itu menilai, merendahkan, seolah tubuhnya adalah bahan komentar.

“Belajar yang rajin ya… biar bisa cari suami kaya.”

Tawa lagi.

Salsabila tidak disentuh. Tidak dipukul.

Namun ia merasa seperti sesuatu dalam dirinya diremas.

Ia pulang dengan kaki gemetar.

  Malam itu ia mandi lebih lama dari biasanya. Menggosok lengannya berkali-kali, seakan ada noda yang tak terlihat. Padahal yang kotor bukan tubuhnya melainkan cara pandang mereka.

  Ketika ia memberanikan diri bercerita pada ayahnya, jawabannya seperti petir di siang bolong.

“Makanya jangan lewat situ. Jangan jalan sendiri. Perempuan harus bisa jaga diri.”

Ia menatap ayahnya.

Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, ia dihukum karena menjadi perempuan.

Hari-hari berikutnya, ia berubah.

Ia tidak lagi berjalan tegak.

Ia mulai memakai jaket tebal meski udara panas.

Ia memilih memutar jalan lebih jauh agar tidak melewati kios itu.

Di kelas, ia tetap menjawab soal. Tetap terlihat kuat.

Tapi di dalam, ia seperti kaca yang retak masih utuh, tapi rapuh.

  Nilainya turun. Konsentrasinya buyar. Ia sering terdiam lama ketika guru menyebut kata “masa depan.”Masa depan terasa seperti tempat yang tidak aman bagi perempuan.

  Pak Arman akhirnya menyadari sesuatu yang berbeda. Setelah lama dibujuk, Salsabila bercerita dengan suara gemetar.

“Pak… kenapa setiap kali perempuan ingin maju, selalu ada yang mencoba

 membuatnya takut?”

Pertanyaan itu menggantung lama di ruangan.

 Sekolah akhirnya turun tangan. Lingkungan diperhatikan. Warga ditegur. Aparat dipanggil. Jalur pulang diatur. Namun luka batin tidak sembuh hanya karena keadaan diperbaiki.

  Butuh waktu bagi Salsabila untuk kembali berjalan tanpa merasa diawasi. Butuh keberanian besar untuk kembali percaya bahwa dunia bukan sepenuhnya ancaman.

Ia hampir menyerah.

  Suatu malam, ia membuka kembali buku hukumnya. Di sana tertulis:

"Ketidakadilan yang dibiarkan akan menjadi kebiasaan."

Ia menutup buku itu perlahan.

“Kalau aku berhenti,” bisiknya, “mereka menang.”

Ia memilih bertahan.

   Bertahun-tahun kemudian, ia berdiri di ruang sidang sebagai hakim muda. Di hadapannya, seorang siswi SMA menjadi korban pelecehan verbal di lingkungan sekolahnya dan justru disalahkan karena dianggap “terlalu menonjol.”

Salsabila menatap gadis itu.

Ia seperti melihat dirinya sendiri bertahun-tahun lalu.

  Dengan suara yang tegas dan tidak lagi gemetar, ia berkata:

“Tidak ada pendidikan yang adil jika perempuan dibuat takut untuk mendapatkannya. Dan tidak ada masyarakat yang bermartabat jika korban disalahkan karena kejahatan orang lain.”Palu diketuk.

  Bunyi itu tidak hanya mengakhiri sidang.Itu memecahkan sunyi yang dulu membungkamnya. Di luar gedung pengadilan, ia berjalan tegak.Langit masih sama seperti dulu. Namun kini, ia tidak lagi merasa langit itu retak di atas kepalanya. Karena ia tahui a tidak diciptakan untuk diperkecil.Ia diciptakan untuk bersuara.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
LOMBA MENULIS cerpen FLS3N atas nama Siti Rodiah KELAS XI-1 "JEJAK YANG TERTINGGAL"

Jejak yang TertinggalKarya : Siti Rodiah Harahap Kelas XI-1 Senja selalu datang dengan cara yang sama, perlahan tanpa suara namun menyimpan jejak yang kasat mata.langit meredup,an

13/05/2026 20:17 - Oleh MORA YANTHI PANGGABEAN, S.Pd - Dilihat 20 kali
Cerpen Berjudul "Aku Tetap Tenggelam" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1 SMA Negeri 1 Angkola Barat

Aku Tetap Tenggelam Langit sore itu berwarna pucat. Tidak gelap sepenuhnya, tetapi juga tidak benar-benar terang. Seperti perasaanku tidak hancur, namun juga tidak utuh. Namaku Alya.

31/03/2026 21:36 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 881 kali
Cerpen Berjudul "Di Antara Lonceng dan Layar" Karya Nirmala Hapni Kelas XII-5

Di Antara Lonceng dan Layar    Pagi itu, lonceng sekolah berbunyi seperti biasa. Nyaring, panjang, dan seharusnya memberi tanda dimulainya hari penuh harapan. Namun bagi Raka

31/01/2026 10:30 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 16 kali
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Qori Saulina Hutagalung Kelas XII-5

HARI BARU, HIDUP BARU Karya Qori Saulina Hutagalung    Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil me

29/11/2025 15:56 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 14 kali
Cerpen Berjudul "Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan" Karya Dari Rodiah Kelas XI-5

Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan   Di sebuah SMA yang terkenal dengan siswanya yang modis dan gaul, ada seorang gadis bernama Alya. Ia berbeda dari kebanyakan teman-temannya. S

26/10/2025 18:51 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 22 kali
Cerpen Berjudul "Cinta yang Tersimpan" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1

Cinta yang Tersimpan Karya Siti Rodiah XI-1   Sebuah desa yang tenang, terdapat seorang gadis bernama Aisyah. Sejak kecil, Aisyah diajarkan untuk selalu menjaga dirinya dengan pe

30/08/2025 19:49 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 36 kali
Puisi Yang Berjudul "Pendidikan Yang Memudar" Karya Dian Eriani Kelas XII-1

Pendidikan Yang Memudar Dian Eriani XII-1   Pendidikan yang Memudar Dinding sekolah retak dan berdebu, Buku-buku usang, tinta pun lesu. Suara guru tak lagi menggelegar, Pend

31/07/2025 23:28 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 16 kali
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Nirmala Hapni Hasibuan Siswa Kelas XII-5

Hari Baru Hidup Baru     Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil meregangkan otot-otot nya. &ldqu

29/06/2025 18:32 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 57 kali
Cerpen Berjudul "Menjadi Ayah Bagi Banyak Orang" Karya Nurhapni Kelas XI-5

Bimo berdiri di depan panti asuhan yang menyimpan segala kenangan masa kecilnya otaknya seakan kembali memutar segala memori yang telah lama ia simpan sendiri. "Tidak terasa ya sud

03/06/2025 22:51 - Oleh MORA YANTHI PANGGABEAN, S.Pd - Dilihat 20 kali
Sebuah Puisi Berjudul "Aku Ingin Menggapai Bintang dengan Seutas Tali" Karya Dian Eriani Rambe Kelas XI-1

Aku Ingin Menggapai Bintang dengan Seutas Tali Karya Dian Eriani Rambe   Aku ingin menggapai bintang bukan bintang yang berkilau di langit tapi bintang dalam hidupku cita-cit

30/05/2025 20:46 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 47 kali