• SMA NEGERI 1 ANGKOLA BARAT
  • #Bekerja Melampaui Tupoksi

Cerpen Berjudul Harapan di Atas Debu Karya Rika Sumila Juara II Lomba Cerpen Nasional TKI Kreatif

HARAPAN DI ATAS DEBU

RIKA SUMILA

        Kota yang dulu indah dan tenteram kini hancur dan bangunan terlihat seperti kepingan bebatuan. Bangunan-bangunan hancur, udara berdebu, jalan rusak dan suara tembakan masih terdengar dikejauhan. Ditengah kekacauan yang menghantam kota itu, masyarakat terus berjuang mempertahankan hidup mereka.

   Ali, seorang remaja dari kota itu sudah menyaksikan kotanya hancur sejak ia kecil. Penyerangan yang terjadi dikotanya sudah terjadi bertahun-tahun. Pokok makanan hingga obat-obatan mereka terbatas. Ali dan masyarakat kota tinggal di sebuah pengungsian bersama. Mereka hidup di tenda-tenda sederhana yang berbahan kain dan kayu. Sekarang, Ali hanya memiliki seorang ibu disisinya. Ayahnya meninggal dunia ditengah perang. Setiap hari, Ali selalu melihat pemandangan masyarakat yang berjuang untuk mencari makanan dan air.

     Bayangan pohon memanjang, menciptakan kesan damai ditengah kehancuran. Ali berjalan menelusuri jalan kerikil. Namun, melihat senja indah bagaikan langit emas membuat hati Ali lebih semangat. Saat berjalan dengan tenang tiba-tiba Ali melihat sebuah benda didepannya. Ali menemukan sebuah buku tua yang tergeletak di tanah dan segera mengambilnya. Usai membersihkan buku dari debu yang mengotorinya, Ali melihat sampulnya dan meneliti judul yang ditangannya. "Mimpi dan Harapan" bibirnya bergerak halus membaca judul buku itu. Ali membuka buku, membalik lembaran buku dan membacanya. Saat membuka lembaran kedua Ali memperhatikan sebuah kalimat dengan seksama yang bertulis "Mimpi adalah kunci untuk mengejar cahaya yang menunggu". Tulisan itu menginspirasi Ali, ia memahami kalimat tersebut. Semangatnya semakin menggebu. Mengingat ia harus pulang untuk menjaga adiknya, Ali segera menutup buku tua itu dan membawanya pulang ke pengungsian. 

        Sesampainya ditempat pengungsian, Ali berlari ke tenda dengan semangat serta buku tua ditangan kanannya. Ibunya menyambut dengan senyum hangat. "Apa itu, nak?" tanyanya saat melihat Ali membawa barang ditangannya.

   Ali menunjukkan buku tersebut dan segera membacakan kalimat inspiratifnya. Ibunya mengangguk paham akan yang dibacakan Ali. "Mimpi itu penting, nak. jangan pernah menyerah. kita harus bisa berjuang banyak untuk membantu rakyat kita yang diserang.”

     Dengan semangat membara, Ali memutuskan untuk membuat satu harapan tinggi untuk membantu menyelamatkan kota. Ali bermimpi untuk bisa mengobati masyarakat yang butuh perobatan. Ibunya mendukung keputusan tersebut dan menemani Ali memulai langkah pertama menuju mimpinya.

       Dengan semangat baru, Ali memulai perjalanan menuju mimpinya menjadi dokter. Ia mencari bantuan dari organisasi kemanusiaan lokal yang menyediakan program pendidikan kedokteran khusus bagi pengungsi.

     Di bawah bimbingan Dr. Umar, seorang dokter pengungsi berpengalaman, Ali bergabung dengan kelompok belajar di pengungsian. Mereka mempelajari dasar-dasar kedokteran dan kesehatan: anatomi, fisiologi, dan pertolongan pertama.

      Setelah berbulan-bulan belajar, Ali menguasai ilmu kesehatan dan membantu merawat warga terluka di klinik pengungsian. Ia menjadi mahir dalam pengobatan luka, penggunaan obat-obatan, dan teknik pertolongan pertama.

      Pengalaman ini memperkuat tekadnya. Ibu Ali bangga dan mendukungnya. "Kamu bisa melakukannya, nak. Kamu akan menjadi dokter yang hebat dan membantu rakyat kita," katanya dengan senyum.

     Ali merasa bahagia dengan dukungan ibunya. Karena Ali sudah menguasai ilmu untuk memberikan pengobatan, ia banyak membantu masyarakat. Beberapa hari kemudian, saat Ali merasakan bangga dengan kemajuan yang telah diraihnya, tantangan baru muncul. Informasi perang akan datang ke pengungsian. Ia terkejut mendengar informasi tersebut. "Alii, kamu harus berhati-hati." kata ibunya mengkhawatirkan Ali. "perang bisa datang kapan saja." Lanjutnya.

"Ibu, saya tidak takut. Saya ingin ingin membantu masyarakat." jawab Ali.

     Ali berangkat ke pusat perobatan pengungsian, merawat dan mengobati warga yang terluka. Terdengar suara tembakan dan ledakan yang semakin keras, hal itu mengancam keamanan masyarakat. Begitu juga dengan Ali, Ia kaget dan khawatir akan keamanan pasiennya. 

"Ali, cepat! Selamatkan diri!" teriak Dr. Umar.

"Apa yang terjadi, Dokter?. Kenapa tiba-tiba terdengar suara ledakan?" tanya Ali dengan cemas. 

"Pusat perobatan kita diserang! kita harus membawa pasien pergi dan bawa obat yang lebih diperlukan!" jawab Dr. Umar.

     Ali dan tim lainnya bergegas dengan cepat membawa pasien pergi. Dikarenakan kota yang sedang terancam, mereka sama sekali tidak memiliki kendaraan apapun untuk memudahkan mereka bermigrasi. Pasien anak-anak maupun dewasa dibawa dengan aman. Ali terlihat lelah dan mulai melemah membawa pasiennya. Saat mereka kembali ke pengungsian, Ali terjatuh dan kehilangan kesadaran. 

       "Ali!" Terak Dr. Umar. Dr. Umar segera membawa Ali ke tenda pengungsian mereka. Ibu Ali beserta warga terkejut melihat Ali yang melemah.

"Dokter, tolong! anak saya terluka." Teriak ibunya.

  "Tenang, bu. kami akan menyadarkan Ali secepatnya." Dr. Umar membuka ranselnya dan mengambil beberapa obat lalu mengobati Ali. Beberapa menit sesudah diberi obat, Ali pulih dari kehilangan kesadarannya. Saat sadar ia merasa tubuhnya lemah. 

     "Ibu, saya masih memiliki pasien disana untuk diselamatkan." Ali menatap ibunya dengan kedua mata yang lesu. "Aku tidak akan menyerah." Lanjutnya sambil memegang kedua telapak tangan ibunya.

       Setelah 6 jam beristirahat, Ali sudah merasakan pulih. Ia tetap berusaha bangkit dan kembali membantu pasien di tempat yang sudah dipindahkan. Sebelumnya, mereka mengira keadaan sangat aman disana. Namun, ternyata keadaan semakin parah. Suara tembakan dan ledakan semakin dekat. Ali dan timnya berusaha menyelamatkan pasien. 

Tetapi...

     Tiba-tiba, sebuah ledakan besar menghantam pusat perobatan. Mereka berlari menyelamatkan diri. Namun, sebuah bongkahan batu yang ukurannya lumayan besar memantul ke kepala Ali karena ledakan yang lumayan keras, membuat Ia terjatuh. Ali terluka parah, darahnya membasahi tanah.

         Ditengah jalan, Dr. Umar menyadari Ali tidak ada dalam rombongan mereka. Ia berlari kembali kearah ledakan. Sesampainya disana, terlihat ledakan sudah berhenti. Matanya menelusuri semua arah untuk melihat keberadaan Ali. 

     "Ahh” terdengar suara Ali merintih kesakitan. Dr. Umar berlari kearah suara. Melihat keadaan Ali yang kesakitan, Dr. Umar membawa Ali secepatnya pergi. Ia membawa Ali ke tempat perkumpulan warga.

     "Anakku, apa yang terjadi dengan anakku!." Ibu Ali berlari kearah mereka saat melihat kondisi Ali yang buruk.

         Keadaan Ali semakin melemah. Dikarenakan Ali terlambat diberi pertolongan pertama saat di lokasi peledakan, kondisinya semakin melemah. Ali memejamkan mata sebentar, kemudian membukanya. "Dokter..., saya tidak bisa lagi..." Kalimat itu muncul dari sudut bibirnya yang berdarah.

    "Ali!, jangan anakku, kau pasti bisa bangkit kembali." Tubuh ibu Ali mulai bergetar melihat anaknya. Kedua telapak tangannya memegang tangan anaknya dengan tulus.

        Kondisi Ali semakin parah. Dr. Umar memeriksa luka-lukanya, berusaha menyelamatkan Ali. Namun karena lukanya terlalu parah dan darah dari kepalanya terus mengalir, Dr. Umar merasa ada kejanggalan.

       "Dokter, aku titipkan pasien yang belum sempat kusembuhkan padamu." Ali menatap Dr. Umar dengan sayu. "Terimakasih didikannya, Dokter. Saya sudah berusaha dan mencoba sebisa mungkin untuk masyarakat." lanjutnya. Dr. Umar hanya terdiam mendengar kalimat yang diucapkan Ali. 

       Sesaat kemudian, tangan Ali perlahan terlepas dari tangan ibunya. Ali menghembuskan nafas terakhirnya dihadapan masyarakat pengungsi.telah pergi. “Mereka jahat!,mereka merebut kota dan merebut nyawa anakku. Mereka harus mendapat hukuman.” Lanjutnya dengan pipi yang dibasahi air mata.

   “Semoga pengorbananmu tidak sia-sia, Ali. Mimpimu akan terus hidup dihati kami.” ucap seorang warga..Masyarakat ikut berduka. Ali meninggalkan mimpi yang berharga itu. 

        Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Sudah memasuki setahun warga berduka atas kepergian Ali. Kota belum sepenuhnya makmur. Namun, mereka tetap berusaha dan melanjutkan mimpi Ali untuk menyembuhkan warga. Sebuah mimpi yang yang belum sepenuhnya tercapai.

        Keteguhan Ali membawa motivasi bagi warga disana. Banyak remaja yang mendaftarkan diri sebagai relawan pada pengungsian. Kini, kota yang terancam kehilangan seorang pemuda yang teguh. Namun, harapan untuk makmur masih melekat dihati mereka.

      Kematian bukanlah akhir, tapi awal keabadian. Pengorbanan akan selalu dikenang sebagai kekuatan spiritual. Cinta dan pengorbanan tidak pernah mati melainkan sumber inspirasi berada dalam hidup dan hati.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
LOMBA MENULIS cerpen FLS3N atas nama Siti Rodiah KELAS XI-1 "JEJAK YANG TERTINGGAL"

Jejak yang TertinggalKarya : Siti Rodiah Harahap Kelas XI-1 Senja selalu datang dengan cara yang sama, perlahan tanpa suara namun menyimpan jejak yang kasat mata.langit meredup,an

13/05/2026 20:17 - Oleh MORA YANTHI PANGGABEAN, S.Pd - Dilihat 21 kali
Cerpen Berjudul "Langit yang Retak di Kepala Salsabila" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1

Langit yang Retak di Kepala Salsabila    Sejak kecil, Salsabila tahu satu hal: ia harus selalu lebih baik agar dianggap setara.Ia juara kelas. Ia sopan. Ia tak pernah membant

20/04/2026 20:10 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 48 kali
Cerpen Berjudul "Aku Tetap Tenggelam" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1 SMA Negeri 1 Angkola Barat

Aku Tetap Tenggelam Langit sore itu berwarna pucat. Tidak gelap sepenuhnya, tetapi juga tidak benar-benar terang. Seperti perasaanku tidak hancur, namun juga tidak utuh. Namaku Alya.

31/03/2026 21:36 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 882 kali
Cerpen Berjudul "Di Antara Lonceng dan Layar" Karya Nirmala Hapni Kelas XII-5

Di Antara Lonceng dan Layar    Pagi itu, lonceng sekolah berbunyi seperti biasa. Nyaring, panjang, dan seharusnya memberi tanda dimulainya hari penuh harapan. Namun bagi Raka

31/01/2026 10:30 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 18 kali
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Qori Saulina Hutagalung Kelas XII-5

HARI BARU, HIDUP BARU Karya Qori Saulina Hutagalung    Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil me

29/11/2025 15:56 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 16 kali
Cerpen Berjudul "Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan" Karya Dari Rodiah Kelas XI-5

Sederhana Bukan Berarti Ketinggalan   Di sebuah SMA yang terkenal dengan siswanya yang modis dan gaul, ada seorang gadis bernama Alya. Ia berbeda dari kebanyakan teman-temannya. S

26/10/2025 18:51 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 24 kali
Cerpen Berjudul "Cinta yang Tersimpan" Karya Siti Rodiah Kelas XI-1

Cinta yang Tersimpan Karya Siti Rodiah XI-1   Sebuah desa yang tenang, terdapat seorang gadis bernama Aisyah. Sejak kecil, Aisyah diajarkan untuk selalu menjaga dirinya dengan pe

30/08/2025 19:49 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 38 kali
Puisi Yang Berjudul "Pendidikan Yang Memudar" Karya Dian Eriani Kelas XII-1

Pendidikan Yang Memudar Dian Eriani XII-1   Pendidikan yang Memudar Dinding sekolah retak dan berdebu, Buku-buku usang, tinta pun lesu. Suara guru tak lagi menggelegar, Pend

31/07/2025 23:28 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 18 kali
Cerpen Berjudul "Hari Baru Hidup Baru" Karya Nirmala Hapni Hasibuan Siswa Kelas XII-5

Hari Baru Hidup Baru     Mentari bersinar menampakkan diri nya ke permukaan. Luna terbangun dengan mata yang masih terpejam, ia duduk sambil meregangkan otot-otot nya. &ldqu

29/06/2025 18:32 - Oleh Sunny Saputra Nasution, S.Pd - Dilihat 59 kali
Cerpen Berjudul "Menjadi Ayah Bagi Banyak Orang" Karya Nurhapni Kelas XI-5

Bimo berdiri di depan panti asuhan yang menyimpan segala kenangan masa kecilnya otaknya seakan kembali memutar segala memori yang telah lama ia simpan sendiri. "Tidak terasa ya sud

03/06/2025 22:51 - Oleh MORA YANTHI PANGGABEAN, S.Pd - Dilihat 22 kali